Kamis 04 Jan 2024 20:43 WIB

Industri Daging dan Susu tidak Netral Terhadap Iklim, Pakar Biologi Sebut Alasannya

Pemahaman sains industri daging dan susu yang netral iklim dinilai menyimpang.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Pakar biologi menyatakan bahwa industri daging dan susu tidak netral terhadap iklim.
Foto: Pxhere
Pakar biologi menyatakan bahwa industri daging dan susu tidak netral terhadap iklim.

ESGNOW.ID,  JAKARTA -- Pakar Biologi sekaligus peneliti dari University of Southampton Inggris, Caspar Donnison, mengungkapkan bahwa industri daging dan susu tidak netral terhadap iklim. Dalam makalah terbarunya, Donnison juga melabeli beberapa klaim penelitian terdahulu yang mengatakan industri daging dan susu bisa netral iklim, sebagai pemahaman sains yang menyimpang.

Penelitian terdahulu seperti yang diterbitkan di jurnal Livestock, mengklaim bahwa industri susu Amerika dapat mencapai netralitas iklim pada tahun 2050 melalui pengurangan emisi metana tahunan hanya sebesar 1 hingga 1,5 persen. Laporan lain menyatakan bahwa beberapa sektor peternakan di AS sudah menjadi bagian dari solusi iklim, dan industri susu California dapat mendorong pendinginan dengan pengurangan gas metana tahunan di atas 1 persen.

Baca Juga

Menurut Donnison, klaim ini sangat menyesatkan karena metana merupakan gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap 0,5 derajat Celcius pemanasan global sejauh ini. Adapun produksi peternakan menyumbang sekitar sepertiga emisi yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Metana tersebut merupakan hasil proses pencernaan pada sapi, domba, dan hewan ruminansia lainnya, yang dikeluarkan saat mereka bersendawa.

“Jadi klaim ini tentu saja patut dicermati. Karena menurut pengamatan saya, klaim ini mewakili pemahaman sains yang menyimpang. Ada risiko bahwa mereka dapat digunakan untuk tindakan ramah lingkungan (greenwashing) dan melemahkan kepercayaan terhadap ilmu iklim,” kata Donnison seperti dilansir The Conversation, Kamis (4/1/2024).

Donnison menjelaskan, istilah “netral iklim” pertama kali diciptakan oleh para pembuat kebijakan untuk merujuk pada emisi gas rumah kaca yang nol. Gas-gas ini diukur menggunakan skala yang mewakili dampak pemanasannya selama periode 100 tahun, dinyatakan dalam setara CO2, inilah yang disebut potensi pemanasan global atau GWP100 dan digunakan dalam persiapan Perjanjian Paris.

Namun GWP100 masih belum sempurna karena meskipun sebagian besar metana berada di atmosfer hanya selama beberapa dekade, karbon dioksida dapat bertahan selama berabad-abad. Itu sebabnya pada tahun 2018, beberapa akademisi memperkenalkan metrik baru yang disebut GWP* untuk lebih mewakili dampak pemanasan dari waktu ke waktu.

Namun, laporan-laporan yang diperiksa Donnison, telah menggunakan GWP* untuk secara halus menggeser makna istilah netral iklim dari emisi net zero menjadi net zero additional warming, di mana "additional" mengacu pada pemanasan di atas yang sudah disebabkan oleh sektor peternakan, bukan pemanasan yang terjadi jika sektor ini berhenti total. Ini berarti bahwa penghasil emisi yang secara historis tinggi seperti industri daging sapi dapat dengan mudah turun.

“Dengan menggunakan GWP*, sektor peternakan dengan emisi metana yang tinggi namun menurun dapat diklaim sebagai sektor yang netral terhadap iklim, karena sektor tersebut menambahkan lebih sedikit gas metana ke atmosfer setiap tahunnya. Hal ini saya disebut dalam beberapa penelitian sebagai “efek pendinginan” yang menyesatkan karena tidak mendinginkan atmosfer, hanya menghangatkannya sedikit,” jelas Donnison.

Studi-studi sebelumnya yang mengklaim industri daging dan susu dapat netral karbon juga gagal menjelaskan bahwa, seperti metana itu sendiri, efek pendinginan dari pengurangan metana ini bersifat sementara. Dan tingkat kestabilannya kemungkinan masih cukup tinggi untuk menyebabkan pemanasan signifikan.

GWP* tentunya memiliki manfaat jika diterapkan di tingkat global. Namun, bahkan para ilmuwan yang mengembangkannya sepakat bahwa metode ini tidak boleh digunakan untuk menilai wilayah atau sektor tertentu seperti peternakan.

“Investigasi kami menunjukkan bagaimana penggunaannya di sini dapat digunakan untuk mendukung greenwashing. Hal ini berisiko melemahkan ilmu pengetahuan tentang iklim karena membingungkan dunia usaha, konsumen, dan pembuat kebijakan. Klaim netral iklim baru-baru ini mengalihkan kita dari tantangan mendesak dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dari semua sektor, termasuk pertanian,” kata Donnison.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement