ESGNOW.ID, CAPETOWN -- Presiden Afrika Selatan (Afsel) Cyril Ramaphosa mengatakan presidensi Afsel di G20 tahun ini akan memprioritaskan upaya membantu negara-negara berkembang mendapat pendanaan untuk transisi ke ekonomi rendah karbon. Pendanaan akan tetap diupayakan meski Amerika Serikat (AS) menarik banyak dukungannya.
Langkah Presiden AS Donald Trump memangkas program-program bantuan luar negeri dikhawatirkan berdampak besar pada pendanaan energi bersih di seluruh dunia. Pejabat pemerintah Trump sudah melewatkan dua pertemuan G20 di Afrsel.
"Perlu lebih banyak pendanaan untuk membatasi kenaikan suhu global yang selaras dengan tujuan Kesepakatan Paris dan melakukannya dengan cara yang adil dan setara," kata Ramaphosa dalam pertemuan dengan menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G20 di Cape Town, Rabu (27/2/2025).
Walaupun menjadi negara pertama yang menandatangani kesepakatan Just Energy Transition Partnership (JETP) yang bertujuan membantu negara-negara berkembang beralih dari batu bara ke energi bersih, tapi negara itu kesulitan mendapatkan dana yang diperlukan. JETP diluncurkan di Pertemuan Perubahan Iklim PBB tahun 2021.
Kesepakatan itu bertujuan menarik lebih banyak pendanaan dari pemerintah, bank-bank multilateral dan sektor swasta untuk proyek energi terbarukan dalam cara yang bermanfaat bagi masyarakat lokal. Indonesia dan Vietnam juga menandatangani kesepakatan serupa.
Beberapa waktu lalu, Pemerintah Indonesia juga mengatakan tidak menerima dana dari JETP.
Pemangkasan dana pembangunan AS dan langkah serupa yang dilakukan pemerintah-pemerintah Eropa termasuk Inggris, membayangi pertemuan di Cape Town. Perusahaan-perusahaan energi juga memangkas investasinya pada energi terbarukan untuk kembali fokus pada minyak dan gas.
Sejak 2018, pendanaan iklim global naik setiap tahun tapi porsi untuk negara-negara berpendapatan rendah seperti Afrika tertahan. Pejabat dan pakar memperkirakan negara-negara Afrika hanya mendapat 5 persen dari total pendanaan iklim global.
Ramaphosa mengatakan Afsel akan mendorong negara anggota G20 untuk mempelopori target iklim ambisius di Pertemuan Perubahan Iklim PBB tahun ini di Brasil. "Kami akan terus mengadvokasi konsensi pendanaan dan dana hibah yang lebih banyak untuk mendukung transisi energi di perekonomian berkembang," katanya.
Ramaphosa mencatat, akhir-akhir ini frekuensi dan intensitas peristiwa-peristiwa cuaca ekstrem seperti banjir dan kekeringan semakin sering dan buruk. Karena itu, tambahnya, diperlukan lebih banyak pendanaan untuk mengembangkan pasar karbon dan melindungi negara-negara yang paling sedikit polusinya dari dampak terburuk perubahan iklim.
Ia menambahkan, Afsel juga akan mendorong kesepakatan untuk memanfaatkan mineral penting yang penting bagi transisi energi sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan dekarbonisasi. Afrika memiliki 30 persen cadangan mineral penting dunia. Tapi hanya menarik 3 persen dari total investasi energi global setiap tahunnya. Afsel ingin mengandalkan kekayaan alam itu untuk mendanai aksi iklimnya.
"Ketika ekstraksi mineral dipercepat untuk menyesuaikan dengan kebutuhan transisi energi, negara-negara dan masyarakat lokal yang memiliki sumber daya ini harus menjadi pihak yang paling diuntungkan," kata Ramaphosa.