ESGNOW.ID, NAIROBI -- Ketua Kelompok Negosiator Iklim Afrika (AGN) Ali Mohamed mengatakan dunia tidak memiliki pilihan lain selain mendorong komitmen-komitmen iklim, meski Amerika Serikat (AS) keluar dari perjanjian penting internasional. Aksi iklim harus berlanjut mengingat ancaman yang ditimbulkan pemanasan global dan kemajuan yang telah dicapai untuk mengatasinya.
Di pelantikannya, Presiden Donald Trump menarik AS keluar dari Perjanjian Paris dan berbagai kemitraan energi bersih internasional, termasuk dengan negara-negara Afrika seperti Afrika Selatan.
"Tidak ada gigi mundur untuk urusan perubahan iklim, seluruh dunia harus memastikan komitmen-komitmen kami secara keseluruhan sebagai komunitas global dipertahankan, kami tidak boleh mundur," kata Mohamed yang juga utusan khusus iklim Kenya, Jumat (4/4/2025).
Mohamed mengatakan sektor swasta sudah menggelontorkan banyak investasi untuk energi bersih yang lebih murah dari sumber energi tak terbarukan. Karena itu, sangat penting perekonomian berada dalam jalur adaptasi dan mitigasi.
"Kesampingkan politik, saya pikir sektor swasta sudah melakukannya sedikit, biaya energi terbarukan turun dan akan mengalahkan biaya energi lainnya," kata Mohamed.
Ia menambahkan, baik negara berkembang maupun kaya merasakan dampak perubahan iklim. Menurutnya, pihak yang skeptis pada perubahan iklim akan mengubah sikap mereka pada akhirnya.
"Masalah-masalah yang akan datang, seperti gelombang panas, kebakaran, banjir dan kenaikan permukaan air laut, akan berdampak dengan cara yang sama pada kita semua, ilmu akan pengetahuan menang, dan semoga pada akhirnya pertimbangan lain akan datang di saat yang tepat," katanya.
Mohamed menegaskan Afrika akan terus berusaha mengamankan prioritas pada pendanaan iklim. Afrika akan mengandalkan negara-negara lain seperti Prancis untuk mengatasi isu iklim.
Ia mengatakan Afrika ingin mengamankan pendanaan yang cukup untuk membangun sumber energi terbarukannya sendiri dan menyediakan lapangan pekerjaan untuk populasi muda.
Menteri-menteri lingkungan negara Afrika akan menggelar pertemuan di Nairobi pada Juli mendatang. Mereka ingin menyamakan posisi sebelum Pertemuan Perubahan Iklim PBB (COP30) di Brasil bulan November mendatang. Fokus menteri-menteri lingkungan itu adalah memastikan negara-negara kaya memenuhi komitmennya pada pendanaan iklim.
"Saya tidak bisa mengatakan kami akan mengubah (strategi negosiasi) karena tantangan dan prioritas untuk mengatasi tantangan-tantangan itu belum berubah, meski politik dunia berubah signifikan," kata Mohamed.